Jumat, 15 Maret 2013

"Emak aku pengen sekolah"




          Di sebuah  kota kabupaten Jember, terdapat perkampungan yaitu kampung Naga, yang biasa disebut “Kampung Pengemis”. Dimana semua orang yang bertempat tinggal di kampung tersebut bekerja sebagai pemulung. Setiap orang pendapatannya bisa mencapai 200 ribu per hari. Pemukimannyapun bisa dikatakan lumayan bagus, bahkan mereka bisa juga membeli barang-barang yang mewah.
          Setelah shalat subuh, mereka langsung bergegas memakai pakaian yang tampak usang dan lusuh, bahkan mereka memakai pakaian yang sudah robek-robek dan tak layak pakai. Mereka bertampang memelas agar banyak orang yang membelaskasihi mereka. Seorang mandor yang biasa dipanggil “Pak Bos” datang dengan mengendarai sebuah trek dan menyuruh mereka menaikinya satu persatu. Lalu diantarkannya mereka ke beberapa tempat dimana mereka harus menyebar dan mulai melakukan aktivitasnya sehari-hari. Selain mengemis di warung-warung trotoar jalan, mereka juga mengemis di toko-toko besar, seperti toko buku, sepatu dan masih banyak lagi. Apabila mereka tidak diberi uang, maka mereka akan mengikuti seseorang tersebut sampai diberinya uang. Itulah salah satu dari taktik mereka.
          Ada tiga bocah pengemis yang tidak bersama orang tuanya. Mereka begitu kumal dan kakinya penuh daki-daki kotor yang melekat. Salah satu diantara mereka yang terkecil ialah Pepeng yang baru berusia 6 tahun. Rambut ikalnya bau seperti tidak pernah keramas dan ingus di hidungnya tak henti-hentinya mengalir. Kedua sahabat kembarnya, Yuda dan Yadi rambutnya pirang dan selalu berantakan.
          Mereka selalu mengemis di lokasi yang sama. Setiap melewati SDN Kartini, Pepeng selalu memandang sekolahan itu. Kali ini ia tak sekedar memandang, tatapi perlahan-lahan ia mendekati gerbang itu dan menempelkan pipinya ke pagar besi serta menatapnya penuh harapan.
          “Peng, ayo! Ngapain kamu di situ?” tanya Yuda
          “ Aku ingin sekolah.” Jawabnya perlahan-lahan dengan muka memelas
          Yuda berusaha mendekatinya. “Udahlah, Peng! Sekolah itu membuat kita semakin sengsara. Lagi pula orang tua kita dari kecil juga seperti ini kan?” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi seakan-akan ia tahu isi hati Pepeng. “Peng, kan gak ada salahnya kita melakukan ini? Ini uang halal Peng. Kita nggak nyolong!”
          “iya aku tahu!”
          Selama ini di atas gelak tawa mereka, Pepeng tak pernah merasakan kebahagiaan di dalam hatinya. Kemudian mereka berjalan lagi untuk mencari lokasi. Kampus negeri di Jember juga tidak ketinggalan menjadi tempat “lokasi” mereka. Ketika melewatinya, satpamnya masuk ke kamar mandi dan mereka melihatnya. Mereka berdua berpikir bahwa ini adalah kesempatan emas yang tidak bisa disia-siakan. Mereka berdua langsung menyelinap dan memanjat pagar dengan sempurna. Pepeng pun mengikutinya tanpa gairah.
          Setelah memasuki kampus, mereka berdua sibuk mencari tempat yang jauh dari pos satpam. Mereka berpura-pura memelas dihadapan para mahasiswa yang sekian banyak jumlahnya. Pepeng hanya duduk melihat aksi teman-temannya dari kejauhan. Tiba-tiba ada seorang mahasiswi cantik yang sok kaya melempar uang seribu rupiah dihadapannya.
          “Eh mbak aku nggak butuh uang itu!” Teriak Pepeng
          “Dasar orang miskin banyak maunya.” Jawab mahasiswi itu ketus sambil berjalan ke kantin.
          Lalu datang seorang mahasiswa dan duduk di dekat Pepeng.
          “apa mau meledekku juga?”
“Enggak kok! Kakak cuma pengen nemenin kamu aja. Ehm... kakak lihat-lihat kamu kurang begitu semangat  kayak teman-temanmu itu.”
“Untuk apa aku semangat? Kalau kerjaku Cuma meminta-minta.”
“Emang orang tuamu kerja apa?”
“Aku seperti ini karena Emak dan Bapak. Beginilah hidupku, hidup seperti rumput liar, tak berpendidikan... sama sekali.” Pepeng berhenti sesaat untuk mengambil nafas. “Hidup dalam lingkungan pengemis, penuh dengan hina bahkan harga diripun tak punya.”
Mata Pepeng mulai berkaca-kaca, dan lelaki itu hanya diam termangu. Pepeng langsung berlari meninggalkannya ketika mendengar Yuda mengeluarkan isyarat tanda bahaya. Mereka berhasil melompat keluar pagar dengan sempurna.
Mereka berlari ketakutan ketika melihat dua petugas penertiban kota yang akan mengejarnya. Di saat menyeberang jalan, Yadi tertabrak mobil dan iapun jatuh tersungkur ke aspal. Wajahnya penuh darah, bahkan hampir tak dapat dikenali. Mobil yang menabraknya lari dan sudah lenyap dari pandangan. Sedangkan Yuda terus berlari kencang tanpa memperhatikan sekitarnya. Pepeng tak tega melihat Yadi terbujur berlumur darah. Ia mencoba menolongnya. Tanpa sadar seorang petugas telah mencekal lengannya dan membawanya ke kantor polisi. Sedangkan Yadi diamankan petugas yang satunya dan dibawanya ke puskesmas terdekat.
Malampun tiba, berita itu menghebohkan kampung tersebut. Pak Bos mendatangi rumah Pepeng untuk memarahi Emak dan Bapak Pepeng. Setelah itu, Pak Bos mendatangi tempat dimana Pepeng sekarang berada. Akhirnya setelah berjam-jam Pak Bos bicara dengan petugasnya, semua ini dapat teratasi, karena Pepeng masih diberi toleransi.
Sampai di rumah Pepeng dimarahi oleh Emak dan Bapaknya habis-habisan. Ia tak kuasa mendengar omelan Emaknya yang memekikkan telinga. Ia langsung berlari ke markasnya di puncak gedung yang masih dalam proses pembangunan. Dilihatnya Yuda yang berlari di sudut gedung, seakkan-akan ingin bunuh diri.
“Yud, gimana keadaan Yadi sekarang?”
“Dia.. dia.. dia meninggal.” Ucapnya sedih
“Apa?” Pepeng tak habis pikir bahwa sahabatnya akan pergi secepat itu.
Sepuluh menit kemudian..
“Hei.. aku di sini!” Teriak Yadi dengan nafas tersengal-sengal
Mereka berdua menoleh dan menatapnya bingung.
“Kamu bukan hantunya Yadi kan?” Tanya Pepeng penuh waspada
“Bukan!! Aku masih hidup. Anak yang tertabrak itu bukan aku tapi anak lain yang ada dibelakangku. Saat ia tertabrak, aku langsung bersembunyi dibalik gerobak.”
“Benarkah?” Tanya Yuda dengan girang, lalu mencoba mendekatinya perlahan-lahan dan memeluknya.
“Peng, makasih ya? Aku tahu niat kamu baik, tapi aku gak pernah nyangka bahwa kamu dapat nglakuin hal sebodoh itu.” Kata Yadi dengan menampakkan giginya yang kuning menyeringai.
Pepeng hanya tersenyum dan menggaruk-garuk rambut ikalnya itu. Tiba-tiba dibenakknya muncul sesuatu kembali, bahwa ia ingin mengentaskan keluarganya dari hidup penuh hinaan. Ia berlari ke sudut gedung, menengok ke bawah, melihat suasana malam yang dipenuhi cahaya lampu berkelap-kelip. Ia berteriak sekuat tenaga. “Aku ingin sekolah! Aku pasti bisa menggapai mimpiku. Pasti!! Ha..ha...ha..” Yuda dan Yadi hanya menatapnya dengan resah. Apa yang telah terjadi kepada Pepeng? Apakah dia telah gila?!!

By: Irmayatul  K.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar