Di
sebuah kota kabupaten Jember, terdapat
perkampungan yaitu kampung Naga, yang biasa disebut “Kampung Pengemis”. Dimana
semua orang yang bertempat tinggal di kampung tersebut bekerja sebagai
pemulung. Setiap orang pendapatannya bisa mencapai 200 ribu per hari.
Pemukimannyapun bisa dikatakan lumayan bagus, bahkan mereka bisa juga membeli
barang-barang yang mewah.
Setelah
shalat subuh, mereka langsung bergegas memakai pakaian yang tampak usang dan
lusuh, bahkan mereka memakai pakaian yang sudah robek-robek dan tak layak
pakai. Mereka bertampang memelas agar banyak orang yang membelaskasihi mereka.
Seorang mandor yang biasa dipanggil “Pak Bos” datang dengan mengendarai sebuah
trek dan menyuruh mereka menaikinya satu persatu. Lalu diantarkannya mereka ke
beberapa tempat dimana mereka harus menyebar dan mulai melakukan aktivitasnya
sehari-hari. Selain mengemis di warung-warung trotoar jalan, mereka juga
mengemis di toko-toko besar, seperti toko buku, sepatu dan masih banyak lagi.
Apabila mereka tidak diberi uang, maka mereka akan mengikuti seseorang tersebut
sampai diberinya uang. Itulah salah satu dari taktik mereka.
Ada
tiga bocah pengemis yang tidak bersama orang tuanya. Mereka begitu kumal dan
kakinya penuh daki-daki kotor yang melekat. Salah satu diantara mereka yang
terkecil ialah Pepeng yang baru berusia 6 tahun. Rambut ikalnya bau seperti
tidak pernah keramas dan ingus di hidungnya tak henti-hentinya mengalir. Kedua
sahabat kembarnya, Yuda dan Yadi rambutnya pirang dan selalu berantakan.
Mereka
selalu mengemis di lokasi yang sama. Setiap melewati SDN Kartini, Pepeng selalu
memandang sekolahan itu. Kali ini ia tak sekedar memandang, tatapi
perlahan-lahan ia mendekati gerbang itu dan menempelkan pipinya ke pagar besi
serta menatapnya penuh harapan.
“Peng,
ayo! Ngapain kamu di situ?” tanya Yuda
“
Aku ingin sekolah.” Jawabnya perlahan-lahan dengan muka memelas
Yuda
berusaha mendekatinya. “Udahlah, Peng! Sekolah itu membuat kita semakin
sengsara. Lagi pula orang tua kita dari kecil juga seperti ini kan?” Ia
berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi seakan-akan ia tahu isi hati Pepeng.
“Peng, kan gak ada salahnya kita melakukan ini? Ini uang halal Peng. Kita nggak
nyolong!”
“iya aku tahu!”
Selama ini di atas gelak tawa mereka,
Pepeng tak pernah merasakan kebahagiaan di dalam hatinya. Kemudian mereka berjalan
lagi untuk mencari lokasi. Kampus negeri di Jember juga tidak ketinggalan
menjadi tempat “lokasi” mereka. Ketika melewatinya, satpamnya masuk ke kamar
mandi dan mereka melihatnya. Mereka berdua berpikir bahwa ini adalah kesempatan
emas yang tidak bisa disia-siakan. Mereka berdua langsung menyelinap dan
memanjat pagar dengan sempurna. Pepeng pun mengikutinya tanpa gairah.
Setelah memasuki kampus, mereka berdua
sibuk mencari tempat yang jauh dari pos satpam. Mereka berpura-pura memelas
dihadapan para mahasiswa yang sekian banyak jumlahnya. Pepeng hanya duduk
melihat aksi teman-temannya dari kejauhan. Tiba-tiba ada seorang mahasiswi
cantik yang sok kaya melempar uang seribu rupiah dihadapannya.
“Eh mbak aku nggak butuh uang itu!”
Teriak Pepeng
“Dasar orang miskin banyak maunya.”
Jawab mahasiswi itu ketus sambil berjalan ke kantin.
Lalu datang seorang mahasiswa dan
duduk di dekat Pepeng.
“apa mau meledekku juga?”
“Enggak kok! Kakak cuma pengen nemenin kamu aja.
Ehm... kakak lihat-lihat kamu kurang begitu semangat kayak teman-temanmu itu.”
“Untuk apa aku semangat? Kalau kerjaku Cuma
meminta-minta.”
“Emang orang tuamu kerja apa?”
“Aku seperti ini karena Emak dan Bapak. Beginilah
hidupku, hidup seperti rumput liar, tak berpendidikan... sama sekali.” Pepeng
berhenti sesaat untuk mengambil nafas. “Hidup dalam lingkungan pengemis, penuh
dengan hina bahkan harga diripun tak punya.”
Mata Pepeng mulai berkaca-kaca, dan lelaki itu
hanya diam termangu. Pepeng langsung berlari meninggalkannya ketika mendengar
Yuda mengeluarkan isyarat tanda bahaya. Mereka berhasil melompat keluar pagar
dengan sempurna.
Mereka berlari ketakutan ketika melihat dua
petugas penertiban kota yang akan mengejarnya. Di saat menyeberang jalan, Yadi
tertabrak mobil dan iapun jatuh tersungkur ke aspal. Wajahnya penuh darah,
bahkan hampir tak dapat dikenali. Mobil yang menabraknya lari dan sudah lenyap
dari pandangan. Sedangkan Yuda terus berlari kencang tanpa memperhatikan
sekitarnya. Pepeng tak tega melihat Yadi terbujur berlumur darah. Ia mencoba
menolongnya. Tanpa sadar seorang petugas telah mencekal lengannya dan
membawanya ke kantor polisi. Sedangkan Yadi diamankan petugas yang satunya dan
dibawanya ke puskesmas terdekat.
Malampun tiba, berita itu menghebohkan kampung
tersebut. Pak Bos mendatangi rumah Pepeng untuk memarahi Emak dan Bapak Pepeng.
Setelah itu, Pak Bos mendatangi tempat dimana Pepeng sekarang berada. Akhirnya
setelah berjam-jam Pak Bos bicara dengan petugasnya, semua ini dapat teratasi,
karena Pepeng masih diberi toleransi.
Sampai di rumah Pepeng dimarahi oleh Emak dan
Bapaknya habis-habisan. Ia tak kuasa mendengar omelan Emaknya yang memekikkan
telinga. Ia langsung berlari ke markasnya di puncak gedung yang masih dalam
proses pembangunan. Dilihatnya Yuda yang berlari di sudut gedung, seakkan-akan
ingin bunuh diri.
“Yud, gimana keadaan Yadi sekarang?”
“Dia.. dia.. dia meninggal.”
Ucapnya sedih
“Apa?” Pepeng tak habis pikir
bahwa sahabatnya akan pergi secepat itu.
Sepuluh menit kemudian..
“Hei.. aku di sini!” Teriak Yadi
dengan nafas tersengal-sengal
Mereka berdua menoleh dan
menatapnya bingung.
“Kamu bukan hantunya Yadi kan?”
Tanya Pepeng penuh waspada
“Bukan!! Aku masih hidup. Anak
yang tertabrak itu bukan aku tapi anak lain yang ada dibelakangku. Saat ia
tertabrak, aku langsung bersembunyi dibalik gerobak.”
“Benarkah?” Tanya Yuda dengan
girang, lalu mencoba mendekatinya perlahan-lahan dan memeluknya.
“Peng, makasih ya? Aku tahu niat
kamu baik, tapi aku gak pernah nyangka bahwa kamu dapat nglakuin hal sebodoh
itu.” Kata Yadi dengan menampakkan giginya yang kuning menyeringai.
Pepeng hanya tersenyum dan
menggaruk-garuk rambut ikalnya itu. Tiba-tiba dibenakknya muncul sesuatu
kembali, bahwa ia ingin mengentaskan keluarganya dari hidup penuh hinaan. Ia
berlari ke sudut gedung, menengok ke bawah, melihat suasana malam yang dipenuhi
cahaya lampu berkelap-kelip. Ia berteriak sekuat tenaga. “Aku ingin sekolah!
Aku pasti bisa menggapai mimpiku. Pasti!! Ha..ha...ha..” Yuda dan Yadi hanya menatapnya
dengan resah. Apa yang telah terjadi kepada Pepeng? Apakah dia telah gila?!!
By: Irmayatul K.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar