Sabtu, 28 Juni 2014

My story: Kehidupan Sebelum 20 Tahun

PULAU DEWATA YANG TAK PERNAH NYAMAN
IRMA. Itulah panggilan kecilku. Namun teman-teman akrabku biasa memanggil Nemo. Entah dari mana asal nama itu, ku rasa tak penting untuk dijelaskan. Pulau Dewata adalah tanah kelahiranku. Banyak orang yang bilang Bali adalah tanah surga. Yah, Bali memang tanah surga untuk berlibur. Tapi untuk pendidikan, bagiku tidak. Aku benci kenapa aku harus dilahirkan di sana? Kenapa aku dibesarkan dengan pendidikan agama yang ala kadarnya? Aku di sana terbilang anak rumahan, karena memang selalu ditinggal orang tua kerja. Jadi pulang sekolah, suka mengurung diri di kamar. Bermain boneka bak seorang Dalang amatiran. Temanku tidak banyak. Sahabatku saja orang hindu, namanya Putu, entah dia ada dimana, yang jelas aku sedang merindunya. Sekolah kami beda, dia sekolah di SD terdekat yang berbasis hindu. Sedang aku, disekolahkan di SD islam tepat di Kota Pahlawan, Tabanan,  jarak antara kecamatan dan kabupaten cukup jauh. Aku dulu sering bertanya pada ibu, kenapa aku disekolahkan yang jauh dan apalagi biaya di SD ku saat itu cukup mahal? Secara, yang sekolah di sana kebanyakan pendatang, anak-anak orang kaya pula. Alasan beliau cuma satu, biar aku mendapat pendidikan agama. Oh meenn.... agama? Tapi aku kok tetep saja tidak ada perubahan saat itu. Sekolah meskipun berkerudung tapi roknya pendek (di atas lutut), lengan pendek pula. Whatever. Aku tak peduli meskipun sekolah di SD islam.
Kalau sedang menulis kehidupan di Bali, aku jadi inget, entah aku SD kelas berapa sempat mikir, “Kenapa aku harus beragama islam? Sholat itu capek. Apa nikmatnya? Enakan kristen seperti teman-temanku yang di gereja saja cuma seminggu sekali atau jadi orang hindu yang cuma ngbanten saja di pura.” Iya, aku dulu saat ditinggal orang tua kerja diam-diam sering mengikuti adat Bali. SembaHyang alias ikut-ikutan banten. Entah aku juga pernah makan sate babi atau nggak aku juga gak tau. Yang jelas aku suka makanan orang Bali.
Sholat jamaah di masjid? Jangan ditanya. Adzan saja tak pernah dengar, karena masjid satu kabupaten hanya satu doank. Sholat gak lengkap, puasa banyak bolongnya (kebiasaan di rumah puasa, tapi di sekolah makan bakso atau makan permen), ngaji khatam jangan ditanya deh, jawaban sudah jelas. Lucu yang tak patut untuk ditertawakan. Lulus SD, aku daftar di SMP negeri 2 Tabanan, SMP yang tergolong paling baik. Dari 1000 pendaftar, aku urutan 300. Senang bukan main, akhirnya aku akan dipindah ke Jawa, meskipun dapat julukan BODOH dari orang tua. Iya, orang tuaku tak pernah bangga. Aku dapat peringkat 10 saja tetap dikatakan bodoh. Padahal kalau dilihat dari sekolahanku yang seperti itu, bisa dikatakan sebuah prestasi (rodok mekso, hahaha).
Alhasil, aku tidak ikut perpisahan saat itu. Yah, jadi tak tau deh, siapa penggantiku menari saat perpisahan berlangsung. Setelah pengumuman, selang 2 hari aku langsung dipindah ke tanah Jawa. Hidup bersama mbah di desa paling pelosok. Jember Selatan, desa dekat pantai. Wah, ini dia yang aku impikan dari dulu, hidup di desa, jauh dari orang tua, terutama jauh dari pergaulan anak-anak kota. Aku ketinggalan daftar di SMPN 1, SMP yang kedengarannya paling maju. Terpaksa aku sama kakek didaftarkan di SMP terdekat. SMP islam. Dalam pikirku, “Alamak.. kenapa harus embel-embel islam lagi? SMP pelosok pula”. Saat itu aku tak menyukai sekolah yang berbasis islam karena mata pelajaran yang harus dicapai banyak. Saat itu pula, aku memutus komunikasi dengan teman-teman SD. Malu, karena harus sekolah di pelosok. Sedang mereka yang ku tahu, ada yang sekolah di bogor dapat beasiswa Habibie, ada yang sekolah di SMP 2 Tabanan, Denpasar, dan sekolah-sekolah yang tergolong elit lainnya.

KEHIDUPAN DESA YANG MENYENANGKAN
Aku hidup hanya mengikuti arus dan takdir. Pasrah. Adat di tanah Jawa dan di Bali itu ternyata beda. Mau main bingung, karena tak punya celana panjang, tapi aku tidak kehabisan akal, semua celana baju muslim yang kupunya tak pakai main. Karena aku di Bali kebiasaan jadi anak rumahan, jadi di Jawapun aku betah ada di rumah, menemani mbah, ikut ke sawah hampir tiap hari seusai pulang sekolah. Aku di sawah tidak membantu mbah, tapi sukanya duduk-duduk di gubuk sambil gambar pemandangan, karena hobiku yang suka menggambar saat itu. Dari sawah itulah aku banyak menemukan inspirasi untuk menulis. Yah, aku mulai belajar menulis sebagai seorang amatiran. Saat itu pula, aku yang dulu periang malah jadi pendiam. Aku suka mengungkap kata lewat tulisan. Mulai dari menulis diary, cerpen, puisi, drama.
Mbahku adalah orang yang sabar, beda dengan orang tuaku. Aku banyak belajar hidup dari mbah. Hidup di desa itu gak mudah ternyata. Tiap hari harus menjaga sikap dengan tetangga. Unggah-ungguh itu penting. Beda dengan di Bali, tetangga cuwek, entah kamu mau nglakuin apa saja yang terburuk sekalipun, tetangga gak peduli. Kehidupanku berubah drastis, sholat lengkap (meskipun masih disuruh-suruh saat itu), puasa amazing gak bolong blas, ngaji khatam (meskipun khatamnya kelas 3 SMP, maklum), plus bisa ngaji kitab dasar, meskipun kadang masih terkendala bahasa Jawa yang cukup semrawut.
Kembali ke masalah sekolah. Aku nyaman sekolah di SMP islam, pelajaran agama tidak ngambang lagi seperti saat aku sekolah di SD islam. Agama sudah mulai tertancap dalam hati, sehingga merubah penampilanku saat itu, aku suka ber-rok panjang, hampir aku tak punya celana Jeans. Aku tak nyaman lagi memakai celana-celana ketat. Duduk bersebelahan dengan laki-laki saja hampir tak pernah. Tidak nyaman sekali. Pacaran apalagi? Tidak pernah berani. Sampai-sampai aku pernah dikatain teman, “Kamu itu lho gak doyan arek lanang a?” Aku hanya tersenyum, karena sikapku yang dari dulu cuek, jadi aku tak peduli dikatain apapun, pikirku, “kalau pacaran itu menguntungkan, aku akan melakukannya sekarang”.
Prestasi akademik. Bagi orang tua, mbah-mbahku, bude-pakde, dapat peringkat 5 besar di kelas itu sebuah prestasi, tapi bagiku tidak. Biasa saja. Aku tidak butuh nilai, aku tidak butuh hasil, yang aku butuhkan adalah perubahan dan agama yang terpatri dalam hati, sehingga dapat merubah prilaku yang kurang benar. Itulah prestasi bagiku. Sekolah, main ke sawah, ngaji di mushola, belajar cukup sebentar lalu meneruskan kegiatan untuk menulis sudah  menjadi rutinitas. Lama-lama aku menjadi orang tertutup, tetangga saja banyak yang tidak ku kenal meskipun mereka banyak yang mengenalku karena sikapku yang memang lebih suka berada di rumah, ketimbang teman-teman yang suka kluyuran tidak jelas. Kalau aku boleh mengingat, saat kelas satu aku pernah membuat konsep drama dadakan, hal yang menyenangkan adalah dramaku menjadi drama terbaik. Ini juga berkat tim yang juga luar biasa dapat menjalankan perannya. Judulnya “Terjerumus dalam Kegelapan” dimana lakonnya bernama Paijem, dan aku yang ditunjuk teman-teman untuk memerankannya. Itu hal yang memalukan, entah aku mendapat ide dari mana membuatnya. Tapi alhasil, aku sukses memerankannya. Memang sulit berperan “untuk ditertawakan orang tanpa merasa sedang ditertawakan.” Mungkin dari situ suksesnya dramaku. Dari situ pula aku punya selera humor. Berikutnya,  tulisanku pernah dipuji guru biologi, perpaduan antara tulisan ilmiah dengan gambar, itu butuh kreativitas, tidak mudah. Temanku yang paling pinter mencari dari berbagai literatur, buku-buku anak SMA dia pelajari. Sedangkan aku, materi hanya tak dengarkan lewat CD yang pernah diputarkan secara singkat saat itu. Catatanku hanya berupa oret-oretan yang sedikit sekali. Yang aku pikirkan adalah bagaimana mengembangkan catatan itu menjadi sebuah deskripsi ilmiah yang tidak terlalu muluk-muluk, dan gambar apa yang dapat padu, karena pada dasarnya aku menyukai hal-hal yang simple. Minder, itu yang kurasakan, karya teman-temanku pada luar biasa, sedangkan aku cuma selembar kertas bergaris. Saat pengumuman tiba, karya siapa yang pantas dipajang di mading, ternyata ajaibnya karyaku yang terpilih. Dari situlah aku dapat memetik pelajaran, “Membuat karya itu tak perlu berlebihan, simpel saja, cukup pikirkan apa yang ada di depanmu, lalu padukan. Selesai”. 
Kali ini dapat pujian dari guru bahasa Indonesia. Saat itu aku kelas 2, membacakan dialog singkat yang kubuat, dialog itu kupadukan dengan sedikit humor. “karyamu itu bagus, punya harga jual”, puji guruku. Aku tidak mudeng maksudnya apa? Lalu dijelaskanlah yang intinya bahwa aku katanya punya potensi dalam menulis, “Coba kamu membuat karya yang lebih banyak, lalu padukan dengan gambar, itu akan membuat anak-anak kecil tertarik membaca, kamu akan dapat uang dari situ”, ungkapnya. Dalam hati cuma bisa bilang “males ah”. Lanjut... tulisan yang pernah gagal adalah menulis dalam bahasa krama inggil. Aku bingung dengan tulisanku sendiri, karena yang mentrasletekan adalah guru ngajiku. Maju ke depan langsung dapat pujian dari guru bahasa jawa, “wah ini kecil-kecil cabe rawit maju”. Pas lagi baca dengan gaya yang sok pede, logatku berubah drastis jadi logat bali, jadi saat itu mengkolaborasikan logat bali dengan bacaan bahasa jawa alus. Sangking menariknya, temen-temenku tertawa gak henti-henti. “Ya sudahlah, daripada ditanya macem-macem tentang isi teks ini, mending ditertawakan saja.” Memang mapel bahasa jawa paling tidak ku sukai, karena ada kata-kata yang sama dengan bahasa bali tapi maknanya beda. Kegagalan kedua adalah disuruh teman menuliskan surat cintanya. Hahaha, rasanya aku pengen ngakak kalau ingat itu. Membuat kata-kata yang puitis, singkat, dan sekali tembak langsung jadi. Aku jadi banyak membaca puisi-puisi romance sebagai literatur. Alhasil, gagal men, temenku ditolak, kasihan banget, mungkin cewek yang ditembaknya itu terlalu cantik kali ya?? Hehehee... Ohya ada cerita lucu lagi, aku pernah ditembak orang pakek surat, hahaha pengen tak ketawain, bahasanya alay, EYD nya semrawut, tulisannya lebih jelek dari aku. Alhasil, aku tidak membalas suratnya, dan langsung itu surat tak buang ke sampah. Emang gue pikirin. Isinya saja gak ada menariknya sama sekali.
Lupakan masalah tulisan. Hemm.. kalau boleh mengungkapkan lagi nih, aku sempat kecewa punya teman asal dari sekolah islam kok rusak? Maksudnya, banyak di antara temanku saat kelas 3 yang tidak perawan ternyata. Aku hanya mendengarkan cerita mereka, tanpa tau harus berbuat apa? Aku hanya diam saja. Mereka juga enjoy cerita padaku tentang pengalamannya yang pernah ciuman bahkan lebih atau oplosan, ya karena aku mungkin orang yang terkenal cuek kalau diceritain apa-apa. Aku tidak peduli asal hal itu tidak merugikanku. Berteman ya tetap berteman, mau gimana lagi? aku hanya tidak habis pikir, kehidupan di desa yang ku kenal dengan anak-anak yang lugu, sopan, ternyata tidak lebih baik dari pergaulan yang ada di kota. Sama saja.

PRESTASI YANG SELALU GAGAL
Kelas 3 SMP, pola pikirku sudah mulai berubah. Godaan dari lingkungan banyak. Yang aku pikirkan adalah gimana aku tetap bertahan di lingkungan seperti ini? Solusinya ya aku tetap menjadi anak rumahan. Meskipun aku sudah tidak betah hidup dalam lingkup yang tertinggal secara teknologi. 3 tahun aku hidup di tanah Jawa, menjadi orang yang lebih terdidik di sini, tapi aku masih belum mengerti tujuanku sekolah sebenarnya apa? Yang aku tahu sekolah itu hanya belajar, setelah itu lulus, lalu kerja, dapat uang dan orang tua senang. Tapi ternyata tujuanku kurang benar. Saat pengumuman kelulusan SMP ternyata danemku berada di urutan kedua paralel. Lumayan tinggi lagi, pokoknya bisa dibilang gak kalah deh dengan anak SMP kota. Apalagi nilai matematika yang terbilang sempurna. Memang saat itu aku menyukai math. Aku senang bukan karena danemku yang tinggi, tapi karena baru dapat pengakuan dari orang tua bahwa aku tidak bodoh. Itu termasuk mimpi yang sangat konyol bagiku yang bisa menjadi nyata. Aku tak pernah nyangka, usaha belajarku terbayar lunas. Dari saat itu aku mulai percaya dengan kekuatan mimpi. Ternyata mimpi itu sangat indah bila didampingi dengan usaha. Memang benar, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
Akhirnya aku  bisa masuk di SMA negeri dan bertemu dengan anak-anak yang pandai. Saat awal kelas satu aku mulai berani bermimpi kembali dengan mimpi yang selama ini aku anggap terlalu muluk-muluk dan konyol yaitu menjadi juara satu di kelas. Rasanya ingin tertawa bila mengingatnya, tapi lambat laun mimpi itu memang nyata. Luar biasa. Allah mengabulkan doa-doaku. Dari situlah rasa minderku semakin berkurang. Aku bisa tampil lebih pede dan teman-teman lebih menyeganiku. Aku berani mimpi seperti itu karena itu adalah upaya balas dendamku. Rasanya dikecilkan itu sakit men, awal jadi anak SMA, aku dibully sama gerombolan teman sekelasku mentang-mentang aku dari pelosok, aku masih ingat sekali siapa saja yang mengataiku. Mereka pada pamer sekolah SMPnya masing-masing yang gede, begini begitu. Beneran, aku tidak menghiperbola perkataan ini. Mereka bilang, “owalah, sekolah mana itu? Aku kok gak pernah denger? Pasti pelosok, rumahmu aja pelosok. Sekolahmu mana ada begini begitu kayak sekolahku.” Dan lain-lain, sambil tertawa puas... Aku cuma bisa nyengir malu dengan perasaan pengen nangis dan dendam. “Lihat saja nanti. Suatu saat kamu akan membutuhkanku”, batinku. Tidak lama kemudian, ucapanku benar, mereka butuh aku. Butuh nyontek. Memalukan bukan? Nyontek kok dibudidayakan. Aku sakit hati bukan karena aku dibilang pelosok, it’s oke, memang kenyataan aku anak pelosok, jadi tak ada masalah dengan perkataan seperti itu. Aku sakit hati karena SMPku dikatain, tempat dimana aku bisa berubah. Aku tidak akan pernah terima jika membawa-bawa nama itu.
Semester  2 di kelas 1, aku tidak mau lagi menjadi juara kelas, karena aku sudah tidak butuh pengakuan dari orang tua, teman, dan para tetangga yang diam-diam memantauku. Tapi kenyataan berkata lain, aku jadi juara lagi, biasa saja, tidak ada perasaan senang. Sampai lulus dari SMA tersebut dengan bertahan masuk 3 besar itu menjadi hal yang biasa. Bagiku dulu, peringkat adalah hasil untuk mendapatkan pengakuan, lambat laun bagiku adalah bonus belajar yang tidak penting. Saat SMA, aku tidak pernah merasa bersaing di kelas. Untuk apa bersaing di kandang sendiri? Kompetisi sebenarnya itu ada di luar kandang.
Maka dari itu, aku mengikuti kegiatan MOSI (Menuju Olimpiade Sains Nasional) dan terpilih dibidang kimia. Saat kelas dua aku terpilih menjadi perwakilannya. Wah rasanya tak pernah nyangka. Suatu kesempatan yang hebat bagiku. Motivasiku adalah kakak kelas yang sudah sampai tingkat Nasional. Aku sempat diasramakan, bertemu dengan anak-anak SMA SBI/RSBI lainnya dari berbagai kota lingkup Jawa Timur. Dikuliahkan selama 3 hari bersama teman-teman yang luar biasa itu kesempatan yang kapan lagi? Kami akrab di sana, saling share ilmu. Alhasil, setelah melalui proses panjang sampai sering belajar malam, sholat tahajud, wah ternyata kenyataan berkata lain, aku ada diurutan keempat itupun hanya beda satu poin dengan anak yang diurutan ketiga. Tidak apa-apa mungkin ini bukan rezekiku, aku yakin Allah punya rencana lain. Aku gagal ke nasional, tapi tidak akan menyurutkan semangatku. Ku akui kimia memang susah, sejak kelas 2 SMA aku sudah didulang kimia versi kuliahan oleh guruku. Aku mencoba untuk mengikuti olimpiade lagi. Aku sempat tiga kali masuk babak semifinal, wah benar-benar tidak kusangka. Yang pertama aku lolos di olimpiade kimia UNESA tingkat Jatim-Bali dan berada di urutan dua. Aku gagal untuk ke final karena kondisiku yang memang kurang fit (sakit dadakan). Ah tak apa lalu aku ikut lagi dan lolos ke babak semifinal  Veterinary Olimpiad UNAIR tingkat Nasional. Aku gagal lagi untuk lolos ke final karena aku memang tidak menguasai soal-soal kedokteran. Belum pulang dari Surabaya sudah dapat kabar aku lolos ke semifinal lagi di olimpiade kimia Universitas Brawijaya. Karena saat seleksi aku langsung mengikuti 2 olimpiade sekaligus. Alhamdulillah gagal lagi ke final. Tapi tak apa masuk ke semifinal saja rasanya sudah untung. Sungguh pengalaman luar biasa untuk anak yang otaknya terbilang pas-pasan sepertiku. Mungkin inilah sebagai penggantiku yang tidak lolos di OSN. Lolos olimpiade yang diadakan kampus, sekaligus mbolank. Bukan Irma namanya kalau tidak ada aksi nekat gak jelas. Hahaha..

KEHIDUPANKU MULAI BERUBAH
Sepertinya lomba-lomba yang aku ikuti kurang ya, cuma yang di atas itu doank. Jadi ya, tidak bisa memaksimalkan potensi. Tak apa. Resiko karena aku mulai nakal. Jujur, sikapku mulai berubah saat SMA, terpengaruh teman untuk tidak menjadi anak yang pendiam. Duduk bersebelahan dengan lawan jenis sudah menjadi hal yang biasa. Sudah bersikap ala preman sekolah. Guru dan staf-staf banyak yang mengenalku. Bisa dibilang masa putih abu-abu itu masa yang mengesankan. 5 kali aku tidak mengikuti pelajaran, males aja. Malah tidur di perpus atau leyeh-leyeh di mushola, bahkan aku pernah dikeluarkan dari kelas biologi, karena aku telat masuk, sehingga UTS aku disendirikan untuk mengerjakan tes di ruang guru, sumpah berisik, tidak nyaman. Saat itu aku mendapatkan hasil tertinggi, alias tidak remidi sendiri. Oke, sudah aman dapat pengakuan dari guruku itu, sampai kelas tiga beliau tidak memperlakukanku seenaknya saja. Kenakalan lain adalah kadang tidak pakai kaos kaki, lompat cendela pernah 2 kali, baju sering murat-marit (tidak dimasukkan kadang), berangkat sandalan, kadang main kartu (pas jam kosong), telat hanya 1 kali, dan yang ekstrim adalah berangkat pakai kolor pendek doank. Ya itu terpaksa karena aku tidak mau dirugikan yang nanti akan membuat rokku basah. Herannya, kenakalanku tidak pernah kelihatan, tidak pernah ketangkap, padahal sekolahku terkenal super ketat, men. Satu lagi kebiasaan yang belum tertangkap oleh teman-temanku yaitu sering minum air keran. Kalau air galon habis di kelas, sangu pas-pasan ya mending minum air keran. Hahaha... husstt...
Aku terkenal anak yang periang, punya selera humor yang tinggi, pernah ada beberapa anak yang langsung bilang ke aku baik teman sekelas maupun beda kelas (biasa aku sering nimbrung di kelas-kelas orang jadi banyak yang akrab denganku). Begini, pertanyaannya sama, “Irma, kamu itu gak pernah punya masalah ya? Kok hidupmu selalu ceria gitu sih?” suerrr, aku pengen ngakak di tempat, aku cuma senyum-senyum saja jika ditanya seperti itu. Juga mana mungkin manusia itu hidup tanpa masalah? Aku hanya manusia yang pandai menutupi baik kesedihan maupun kerapuhanku dengan wajah-wajah yang selalu tertawa (yah meskipun gak jelas sih kadang). Sikap cuekku tidak hilang-hilang dari dulu, entah orang mau berkata apa, asal tidak merugikanku, tak apa, aku akan diam saja. Aku anak yang aktif, tapi bukan untuk organisasi. Aku tak suka organisasi jenis apapun. Bagiku, organisasi itu bikin capek, buang-buang waktu, dll. Aku mikirnya begini, kalau aku mengikuti organisasi dengan separuh hati, yang jelas ujung-ujungnya aku akan jadi kuli.
Dalam hal bermain, wah sebagai anak rumahan yang belum mengenal dunia luar, senang sekali bisa mbolank bersama kawan-kawan tercinta. 2 kali camp, dan itu tidak berbekal apa-apa. Luar biasa. Belum lagi yang acara mbolank-mbolank sampai daerah Situbondo. Pengalaman yang mengharukan. Bertemu dengan alam, untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Yang mengesankan mbolangku hanya bermodal sedikit, bahkan kadang tidak bermodal. Daerah yang pernah ku kunjungi adalah Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Surabaya. Cukup itu dulu.

KEGAMANGAN HIDUP
Saat kelas tiga aku merasakan dilema. Aku bingung harus kerja atau kuliah nanti setelah lulus SMA karena keterbatasan biaya juga. Lalu aku mendapat informasi tentang beasiswa bidikmisi. Wah rasanya ingin sekali mendapatkannya. Dari situlah semangat belajarku tumbuh lagi. Aku mendapat rekomendasi dari sekolah untuk mengikuti jalur SNMPTN undangan. Saat itulah aku nekat untuk meneruskan kuliah. Tujuanku sekolah kedokteran. Tapi karena terkendala biaya, ku wurungkan niatku itu. Terus aku pilih ke teknik ITS dan pilihan kedua UNESA, aku jauh lebih semangat untuk belajar soal-soal SNMPTN buat jaga-jaga kalau tidak tembus jalur undangan. Dan pada akhirnya aku diterima di UNESA. Oh men... Kecewa. SMAku katanya ternyata diblacklist  sama ITS. Kenapa harus UNESA? Aku kan hanya coba-coba menaruh dipilihan kedua. Aku memang sudah terlanjur ilfeel sama unesa gara-gara kesan pertama yang tidak baik saat olkim. Sebenarnya aku juga sudah ditrima di salah satu Sekolah Tinggi di Jogja, tidak ku ambil karena jurusan teknik informatika.
Mengawali semester 1 kuliah dengan separuh hati. Meskipun ada di jurusan kimia, tapi jurusan ini tidak pernah aku minta dan kampus ini tidak pernah aku inginkan. Kali ini, aku tidak butuh pengakuan dari siapapun. Aku tidak pernah belajar. Kerjaanku kuliah-tidur dengan memakan gaji buta. Ya, aku tidak mikir saat itu kalau aku ini disekolahkan negara. Aku tidak punya tujuan jelas bahwa aku kuliah untuk apa? Jadi apa? Sumpah, aku bosen menjalani kuliah yang begini-begini doank. Sifatku berubah lagi, ya tepatnya menjadi Irma yang masih SMP, pendiam, pasif, kembali menulis hal-hal yang tidak jelas.
Bermula menjadi panitia (LO) LKTI SMA tingkat nasional, aku melihat mereka keren-keren mempresentasikan karyanya, wah hanya ngbatin,”Kapan ya aku berdiri di mimbar seperti itu?” mustahil. Aku bukan siapa-siapa di sini. Jiwaku belum menyatu di kampus ini. Namun, semangatku mulai terpacu lagi saat dapat undangan mengikuti TD di Hotel Tanjung. Wah ternyata mereka yang menerima beasiswa keren-keren ya? Aku bertekad untuk tidak kalah seperti mereka. Setelah melalui perenungan panjang, “iya ya, inilah kandangku. Jurusan kimia Unesa”. Jadi sering bangun malam, sholat, berusaha ikhlas dan sabar, bersyukur yang seharusnya ku ucapkan dari dulu. Yah, bersyukur itu tidak hanya ku ucapkan, tapi akan kubuktikan dengan sikap. Aku akan semangat. Tak ada yang tau saat itu aku sedang patah hati sepatah-patahnya dengan seseorang. Untuk pelampiasan kucoba terjun ke dunia yang pernah menjadi asing, yaitu menulis ilmiah. Tidak punya bekal apa-apa, yang aku tau belajar yang tepat adalah langsung terjun ke dunia itu. Banyak membaca adalah kunci seseorang dapat menulis. Seiring berjalannya waktu, keberuntungan itu ada dipihakku kembali. Entahlah itu prestasi atau bukan? Yang jelas aku sendiri senang mendapat kesempatan itu, dan mendapat sahabat baru yang pada luar biasa.
Semester 3, seperti suatu kehidupan baru. Menjalankan rutinitinas yang berbeda dari biasanya. Aku suka tantangan, jadi aku berinisiatif untuk tidak diberi uang meskipun dalam jumlah kecil, aku hanya mencoba apakah aku bisa bertahan hidup di perantauan dengan hanya uang bulanan dari pemerintah? Aku punya bakat bicara dengan seseorang yang tak ku gunakan lagi selama masa keterpurukan itu, bakat itu kali ini tak ku sia-siakan, tak manfaatkan buat berdagang. Yah, aku berdagang kerudung. Lumayan aku bisa menarik perhatian orang, alhamdulillah banyak pesanan. Tiap hari, siang kuliah, kalo ada waktu ya kerja, malam ngerjain tugas (biasa mahasiswa), tidur sebentar, bangun malam (mengerjakan aktivitas malam), masak nasi, kalau ada waktu tidur lagi nunggu subuh. Kata-kata mbahku cuma satu, “Jangan lupa ngaji”. Tentu saja, aku tau itu. Ini dia kehidupan yang aku sukai, belajar hidup  mandiri untuk bekal kehidupan nanti setelah 20 tahun.
Berharap, aku bisa sesukses orang-orang yang pernah ku temui dan bersalaman, sepert bapak Dahlan Iskan, Shohibul Asha (Waka DPR-RI), bpk Tumiran (Ilmuwan Indonesia penemu ECVT dan satelit pertama di Indonesia), salah satu mahasiswa asal Tokyo Japan, bapak Misbahul Huda (Direktur Jawa Pos dan asosiasi apa gitu?), bpk direktur perusahaan Malaysia (lupa namanya, karena sudah lama), dll. Jadi merinding, ada sisa 4 tahun lagi untuk berusaha dan dapat pengakuan sukses dari guruku SMP. Benar-benar, di luar nalar sudah 6 tahun setelah tantangan itu ku terima, sama sekali tidak ku temui guruku tersebut, padahal sudah ku usahakan. 4 tahun lagi. Siapa takut????
-To be Continued-

Lanjutan setelah 20 tahun hidup