Selasa, 11 Februari 2014

Trip to X-island



X-island?? Kayaknya terlalu alay deh. Tapi alay itu memang suatu karya seni yang cukup menarik. Wkwkwkwk. Well, yuk kembali ke X-island, jadi gini liburan tanggal 19 Januari 2014 itu serunya pake banget. Kami berempat, Aku, Angger, Rimah, dan Whempy tanpa janjian panjang langsung cuss ke sebuah pantai yang menurut gue memang punya potensi wisata yang cukup menarik. Kecamatan Puger. Itu pantai bukan sekadar pantai. Bagi gue yang cukup menarik adalah pertemuan antara sungai yang gede sama air laut. Berhubung di sana panas dan geje, kami langsung melanjutkan ekspedisi ke seberang sungai. Ke X-island. Taraaa.....akhirnya gue bertemu “hijau”, gue bener-bener menikmati perjalanan nyebrang pakek perahu nelayan yang kecil itu. Setelah sampai tempat tujuan kami berempat duduk-duduk sambil menikmati pemandangan yang ada. Sumpah, amazing sejuknya. Lama gue gak ngrasain tempat-tempat kayak begituan. Gue merindukan banget masa-masa gue yang dulu sering mbolank bareng. Ngliat ada kolam kecil di depan gue, rasanya kayak pengen ikut nyemplung. “Plung”... mengingat masa kecil gue yang suka bila bertemu dengan air. Air. Air yang jernih adalah pusat inspirasi gue. Awalnya gue pengen melupakan riset gue yang hampir ngbuat gue sakit perut. Setelah gue ngliat anak kecil yang pada unyu-unyu mandi di kolam tersebut dan gue beberapa menit sempat memandangi airnya. Akhirnya gue nemu inspirasi buat nglanjutin gimana riset gue yang agak sedikit kacauu tersebut. Hahaha air di kolam itu sungguh luar biasa. Ini dia foto gak jelas gue mengamati kolam, kebetulan ada yang jeprat-jepret gak jelas dari belakang. 

Perjalanan kami ternyata gak berakhir di situ. Sebelumnya kenalin temen-temen gue, ada Rimah, temen gue jaman OSK asal Probolinggo, dia anaknya rame, narsis, wah gokil deh.. :D 
Trus si kaos putih. Angger. Anak paling gak jelas, nyebelin, suka bully orang, sukanya ada di belakang kamera, untung gue nemu fotonya yang sendirian. Hemm, apa lagi yak tentang tuh anak? Baik hati, soalnya udah nebengin gue. :D
 
Ohya, satu orang gak jelas lagi belum gue sebutin, siapa lagi kalo bukan Whempy. Si pemandu trip kami seharian. Yah, gimana bisa dikatakan jelas orang awal perjalanan kami aja balik, karena takut nyasar dan kami nilai medannya agak bahaya. Gak lucu nanti bisa masuk tapi gak bisa keluar.
   
Akhirnya setelah beberapa menit mikir, kami berubah arah menuju sebuah pantai yang tidak berpenghuni. Karena air saat itu pasang, kami cari aman saja untuk lewat atas. Sekali lagi gue bilang sueerr, jalannya ngbetein banget pake acara naik turun. Jalan setapak dan sedikit ada jebakan tumbuhan berduri. Kayaknya gue juga gak bisa mikir kalo pulang harus nglewatin itu jalan lagi. Keluar dari alas itu rasanya sesuatu banget.
   
Taraa... beach day pun tiba ditengah terik matahari yang ngbuat kaki gue gosong. Ini dia, sepanjang garis pantai yang gue idamkan. Ternyata yang gue injek itu bukan pasir, melainkan batu-batu putih. Cukup menarik bukan?? Terima kasih atas jepretan mas Angger :D
   

Selanjutnya, kami berempat istirahat sejenak di tepian. Menikmati pemandangan di depan mata yang memang SubhanaAllah. Ini pantai agak keruh karena memang ini masih deket titik dimana antara air sungai dan laut bertemu. Kalau gue boleh ngungkapin nih ya, ini tepian agak kotor. Gak dirawat (gimana mau ngrawat coba? Penduduknya aja gak ada). Mungkin ini sampah pelarian dari pemukiman atau orang yang jalan-jalan di seberang sana. Tidak peduli lingkungan, yah akhirnya memperburuk lingkungan. Kalo boleh jujur sih, gue sampai sekarang masih kepikiran sama bungkus coklat gue yang terbuang di sana. Haduh, bego. Lupa gak gue masukin lagi ke tas. Biasanya gue, bungkus permen yang kecil sekalipun gak berani buang sembarang. Ini gara-gara gue terpesona dengan keindahan ciptaan Tuhan. Saat itu gue memang gak ada bedanya sama mereka yang tidak peduli lingkungan.
Okelah, lupakan bungkus coklat dan kembali lagi ke trip yang mengesankan ini. Dehidrasi. Tentu saja, air habis di tepian sungai dan sayangnya gak ada yang jualan di sana (berharap ada alien datang bawa air). Hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan menuju tebing pantai. Samudra mannn... Meskipun teman kami, Rimah, yang rupanya sudah kelelahan gak mau nglanjutin. Tapi akhirnya berhasil kami bujuk. Kami memasuki alas lagi. Jalan makin sempit tapi gak terlalu bikin capek seperti yang awal tadi. Dan akhirnya, taraa.....
 


Kami sampai di penghujung X-island. Setelah kami puas berdiri di atas batu karang dengan panas yang amat menyengat. Kami balik ke tepian sungai. Terdampar. Yah, kami gak bisa pulang karena nomor telpon tukang perahu yang dihubungi Rimah gak bisa. Rupanya salah nyatat nomor. Jadi kami menunggu berharap ada pertolongan datang. Wkwkwkwk. Ohya, si Angger sempat ngajarin teknik lempar batu 2 kali loncatan. Keren sih, Ilmu baru. Tapi pas gue liat dia nglempar mah rasanya biasa aja, secara dia udah keseringan pastinya. Gue coba lempar, beberapa kali lempar gue dinyatakan berhasil. Yeeaahhh... ternyata gak susah, hanya butuh fokus dan keyakinan. Itu saja. Sama kayak kita saat mengejar sesuatu, sekali lagi hanya dibutuhkan fokus dan yakin. Keyakinan itulah yang gue sering sebut berulang-ulang dengan “hati”. “Segala sesuatu yang akan kita capai, maka perlu dilakukan dengan hati.” Dari teknik lempar batu, gue dapet metik pelajaran bahwa sukses itu perlu gagal terlebih dahulu. Karena gagal dan sukses itu satu paket yang gak mungkin dapat dipisahkan. Dan kegagalan itulah yang dapat membuat kita mengerti makna sukses yang sesungguhnya. “Kita Bisa Karena Kita Terus Mencoba.” Eiitttsss... kembali lagi dimasalah terdampar, intinya gue betah di sana. Rasanya gue pengen hidup di sana. Ada air, hijau, keheningan, wah semesta yang sangat menakjubkan.
   


Beberapa menit kemudian, si tukang perahu ngliat kami berempat dari kejauhan. Saatnya untuk mengakhiri membayangkan hidup tanpa orang satu kampung. Yuhuuu... acara selanjutnya makan satu paket bakaran ikan. Tapi gak sempat mendokumentasikan makanannya, udah keburu laper. Hehehe. 
 
Yang jelas belajar dari alam itu cukup menyenangkan. Dari jalan berliku dan tumbuhan berduri yang membuat kami selalu berhati-hati di situ memiliki makna dalam mempelajari hidup. Bahwa hidup itu tidak mudah. Butuh perjuangan untuk mencapai taraf hidup yang kita inginkan. Oke guys... Gimana liburan kami? Wah.. cukup menarik bukan??? ^^
 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar