PULAU
DEWATA YANG TAK PERNAH NYAMAN
IRMA. Itulah
panggilan kecilku. Namun teman-teman akrabku biasa memanggil Nemo. Entah dari
mana asal nama itu, ku rasa tak penting untuk dijelaskan. Pulau Dewata adalah
tanah kelahiranku. Banyak orang yang bilang Bali adalah tanah surga. Yah, Bali
memang tanah surga untuk berlibur. Tapi untuk pendidikan, bagiku tidak. Aku
benci kenapa aku harus dilahirkan di sana? Kenapa aku dibesarkan dengan pendidikan
agama yang ala kadarnya? Aku di sana terbilang anak rumahan, karena memang
selalu ditinggal orang tua kerja. Jadi pulang sekolah, suka mengurung diri di
kamar. Bermain boneka bak seorang Dalang amatiran. Temanku tidak banyak.
Sahabatku saja orang hindu, namanya Putu, entah dia ada dimana, yang jelas aku
sedang merindunya. Sekolah kami beda, dia sekolah di SD terdekat yang berbasis
hindu. Sedang aku, disekolahkan di SD islam tepat di Kota Pahlawan,
Tabanan, jarak antara kecamatan dan
kabupaten cukup jauh. Aku dulu sering bertanya pada ibu, kenapa aku
disekolahkan yang jauh dan apalagi biaya di SD ku saat itu cukup mahal? Secara,
yang sekolah di sana kebanyakan pendatang, anak-anak orang kaya pula. Alasan
beliau cuma satu, biar aku mendapat pendidikan agama. Oh meenn.... agama? Tapi
aku kok tetep saja tidak ada perubahan saat itu. Sekolah meskipun berkerudung
tapi roknya pendek (di atas lutut), lengan pendek pula. Whatever. Aku tak peduli meskipun sekolah di SD islam.
Kalau sedang
menulis kehidupan di Bali, aku jadi inget, entah aku SD kelas berapa sempat
mikir, “Kenapa aku harus beragama islam? Sholat itu capek. Apa nikmatnya?
Enakan kristen seperti teman-temanku yang di gereja saja cuma seminggu sekali
atau jadi orang hindu yang cuma ngbanten saja di pura.” Iya, aku dulu saat
ditinggal orang tua kerja diam-diam sering mengikuti adat Bali. SembaHyang
alias ikut-ikutan banten. Entah aku juga pernah makan sate babi atau nggak aku
juga gak tau. Yang jelas aku suka makanan orang Bali.
Sholat jamaah
di masjid? Jangan ditanya. Adzan saja tak pernah dengar, karena masjid satu
kabupaten hanya satu doank. Sholat gak lengkap, puasa banyak bolongnya
(kebiasaan di rumah puasa, tapi di sekolah makan bakso atau makan permen),
ngaji khatam jangan ditanya deh, jawaban sudah jelas. Lucu yang tak patut untuk
ditertawakan. Lulus SD, aku daftar di SMP negeri 2 Tabanan, SMP yang tergolong
paling baik. Dari 1000 pendaftar, aku urutan 300. Senang bukan main, akhirnya
aku akan dipindah ke Jawa, meskipun dapat julukan BODOH dari orang tua. Iya,
orang tuaku tak pernah bangga. Aku dapat peringkat 10 saja tetap dikatakan
bodoh. Padahal kalau dilihat dari sekolahanku yang seperti itu, bisa dikatakan
sebuah prestasi (rodok mekso,
hahaha).
Alhasil, aku
tidak ikut perpisahan saat itu. Yah, jadi tak tau deh, siapa penggantiku menari
saat perpisahan berlangsung. Setelah pengumuman, selang 2 hari aku langsung
dipindah ke tanah Jawa. Hidup bersama mbah di desa paling pelosok. Jember
Selatan, desa dekat pantai. Wah, ini dia yang aku impikan dari dulu, hidup di
desa, jauh dari orang tua, terutama jauh dari pergaulan anak-anak kota. Aku
ketinggalan daftar di SMPN 1, SMP yang kedengarannya paling maju. Terpaksa aku
sama kakek didaftarkan di SMP terdekat. SMP islam. Dalam pikirku, “Alamak..
kenapa harus embel-embel islam lagi? SMP pelosok pula”. Saat itu aku tak
menyukai sekolah yang berbasis islam karena mata pelajaran yang harus dicapai
banyak. Saat itu pula, aku memutus komunikasi dengan teman-teman SD. Malu,
karena harus sekolah di pelosok. Sedang mereka yang ku tahu, ada yang sekolah
di bogor dapat beasiswa Habibie, ada yang sekolah di SMP 2 Tabanan, Denpasar,
dan sekolah-sekolah yang tergolong elit lainnya.
KEHIDUPAN
DESA YANG MENYENANGKAN
Aku hidup hanya
mengikuti arus dan takdir. Pasrah. Adat di tanah Jawa dan di Bali itu ternyata
beda. Mau main bingung, karena tak punya celana panjang, tapi aku tidak
kehabisan akal, semua celana baju muslim yang kupunya tak pakai main. Karena
aku di Bali kebiasaan jadi anak rumahan, jadi di Jawapun aku betah ada di
rumah, menemani mbah, ikut ke sawah hampir tiap hari seusai pulang sekolah. Aku
di sawah tidak membantu mbah, tapi sukanya duduk-duduk di gubuk sambil gambar pemandangan, karena hobiku yang suka menggambar
saat itu. Dari sawah itulah aku banyak menemukan inspirasi untuk menulis. Yah,
aku mulai belajar menulis sebagai seorang amatiran. Saat itu pula, aku yang
dulu periang malah jadi pendiam. Aku suka mengungkap kata lewat tulisan. Mulai
dari menulis diary, cerpen, puisi,
drama.
Mbahku adalah
orang yang sabar, beda dengan orang tuaku. Aku banyak belajar hidup dari mbah.
Hidup di desa itu gak mudah ternyata. Tiap hari harus menjaga sikap dengan
tetangga. Unggah-ungguh itu penting.
Beda dengan di Bali, tetangga cuwek, entah kamu mau nglakuin apa saja yang
terburuk sekalipun, tetangga gak peduli. Kehidupanku berubah drastis, sholat
lengkap (meskipun masih disuruh-suruh saat itu), puasa amazing gak bolong blas, ngaji
khatam (meskipun khatamnya kelas 3 SMP, maklum), plus bisa ngaji kitab dasar, meskipun kadang masih terkendala
bahasa Jawa yang cukup semrawut.
Kembali ke
masalah sekolah. Aku nyaman sekolah di SMP islam, pelajaran agama tidak
ngambang lagi seperti saat aku sekolah di SD islam. Agama sudah mulai tertancap
dalam hati, sehingga merubah penampilanku saat itu, aku suka ber-rok panjang,
hampir aku tak punya celana Jeans. Aku tak nyaman lagi memakai celana-celana
ketat. Duduk bersebelahan dengan laki-laki saja hampir tak pernah. Tidak nyaman
sekali. Pacaran apalagi? Tidak pernah berani. Sampai-sampai aku pernah dikatain
teman, “Kamu itu lho gak doyan arek
lanang a?” Aku hanya tersenyum, karena sikapku yang dari dulu cuek, jadi
aku tak peduli dikatain apapun, pikirku, “kalau pacaran itu menguntungkan, aku
akan melakukannya sekarang”.
Prestasi
akademik. Bagi orang tua, mbah-mbahku, bude-pakde, dapat peringkat 5 besar di
kelas itu sebuah prestasi, tapi bagiku tidak. Biasa saja. Aku tidak butuh
nilai, aku tidak butuh hasil, yang aku butuhkan adalah perubahan dan agama yang
terpatri dalam hati, sehingga dapat merubah prilaku yang kurang benar. Itulah
prestasi bagiku. Sekolah, main ke sawah, ngaji di mushola, belajar cukup
sebentar lalu meneruskan kegiatan untuk menulis sudah menjadi rutinitas. Lama-lama aku menjadi
orang tertutup, tetangga saja banyak yang tidak ku kenal meskipun mereka banyak
yang mengenalku karena sikapku yang memang lebih suka berada di rumah,
ketimbang teman-teman yang suka kluyuran tidak
jelas. Kalau aku boleh mengingat, saat kelas satu aku pernah membuat konsep
drama dadakan, hal yang menyenangkan
adalah dramaku menjadi drama terbaik. Ini juga berkat tim yang juga luar biasa
dapat menjalankan perannya. Judulnya “Terjerumus dalam Kegelapan” dimana
lakonnya bernama Paijem, dan aku yang ditunjuk teman-teman untuk memerankannya.
Itu hal yang memalukan, entah aku mendapat ide dari mana membuatnya. Tapi
alhasil, aku sukses memerankannya. Memang sulit berperan “untuk ditertawakan
orang tanpa merasa sedang ditertawakan.” Mungkin dari situ suksesnya dramaku. Dari
situ pula aku punya selera humor. Berikutnya,
tulisanku pernah dipuji guru biologi, perpaduan antara tulisan ilmiah
dengan gambar, itu butuh kreativitas, tidak mudah. Temanku yang paling pinter
mencari dari berbagai literatur, buku-buku anak SMA dia pelajari. Sedangkan
aku, materi hanya tak dengarkan lewat CD yang pernah diputarkan secara singkat
saat itu. Catatanku hanya berupa oret-oretan yang sedikit sekali. Yang aku
pikirkan adalah bagaimana mengembangkan catatan itu menjadi sebuah deskripsi
ilmiah yang tidak terlalu muluk-muluk,
dan gambar apa yang dapat padu, karena pada dasarnya aku menyukai hal-hal yang simple. Minder, itu yang kurasakan,
karya teman-temanku pada luar biasa, sedangkan aku cuma selembar kertas
bergaris. Saat pengumuman tiba, karya siapa yang pantas dipajang di mading,
ternyata ajaibnya karyaku yang terpilih. Dari situlah aku dapat memetik
pelajaran, “Membuat karya itu tak perlu
berlebihan, simpel saja, cukup pikirkan apa yang ada di depanmu, lalu padukan.
Selesai”.
Kali ini dapat
pujian dari guru bahasa Indonesia. Saat itu aku kelas 2, membacakan dialog
singkat yang kubuat, dialog itu kupadukan dengan sedikit humor. “karyamu itu
bagus, punya harga jual”, puji guruku. Aku tidak mudeng maksudnya apa? Lalu dijelaskanlah yang intinya bahwa aku
katanya punya potensi dalam menulis, “Coba kamu membuat karya yang lebih
banyak, lalu padukan dengan gambar, itu akan membuat anak-anak kecil
tertarik membaca, kamu akan dapat uang dari situ”, ungkapnya. Dalam hati cuma
bisa bilang “males ah”. Lanjut... tulisan yang pernah gagal adalah menulis
dalam bahasa krama inggil. Aku
bingung dengan tulisanku sendiri, karena yang mentrasletekan adalah guru ngajiku. Maju ke depan langsung dapat
pujian dari guru bahasa jawa, “wah ini kecil-kecil cabe rawit maju”. Pas lagi baca dengan gaya yang sok pede, logatku berubah drastis jadi
logat bali, jadi saat itu mengkolaborasikan logat bali dengan bacaan bahasa
jawa alus. Sangking menariknya, temen-temenku tertawa gak henti-henti. “Ya
sudahlah, daripada ditanya macem-macem tentang isi teks ini, mending
ditertawakan saja.” Memang mapel bahasa jawa paling tidak ku sukai, karena ada
kata-kata yang sama dengan bahasa
bali tapi maknanya beda. Kegagalan kedua adalah disuruh teman menuliskan surat
cintanya. Hahaha, rasanya aku pengen ngakak kalau ingat itu. Membuat kata-kata
yang puitis, singkat, dan sekali tembak langsung jadi. Aku jadi banyak membaca
puisi-puisi romance sebagai
literatur. Alhasil, gagal men, temenku ditolak, kasihan banget, mungkin cewek
yang ditembaknya itu terlalu cantik kali ya?? Hehehee... Ohya ada cerita lucu
lagi, aku pernah ditembak orang pakek surat, hahaha pengen tak ketawain, bahasanya
alay, EYD nya semrawut, tulisannya lebih jelek dari aku. Alhasil, aku tidak
membalas suratnya, dan langsung itu surat tak buang ke sampah. Emang gue pikirin. Isinya saja gak ada
menariknya sama sekali.
Lupakan masalah
tulisan. Hemm.. kalau boleh mengungkapkan lagi nih, aku sempat kecewa punya
teman asal dari sekolah islam kok rusak?
Maksudnya, banyak di antara temanku saat kelas 3 yang tidak perawan ternyata.
Aku hanya mendengarkan cerita mereka, tanpa tau harus berbuat apa? Aku hanya
diam saja. Mereka juga enjoy cerita
padaku tentang pengalamannya yang pernah ciuman bahkan lebih atau oplosan, ya karena aku mungkin orang
yang terkenal cuek kalau diceritain apa-apa. Aku tidak peduli asal hal itu
tidak merugikanku. Berteman ya tetap berteman, mau gimana lagi? aku hanya tidak
habis pikir, kehidupan di desa yang ku kenal dengan anak-anak yang lugu, sopan,
ternyata tidak lebih baik dari pergaulan yang ada di kota. Sama saja.
PRESTASI
YANG SELALU GAGAL
Kelas 3 SMP,
pola pikirku sudah mulai berubah. Godaan dari lingkungan banyak. Yang aku
pikirkan adalah gimana aku tetap bertahan di lingkungan seperti ini? Solusinya
ya aku tetap menjadi anak rumahan. Meskipun aku sudah tidak betah hidup dalam
lingkup yang tertinggal secara teknologi. 3 tahun aku hidup di tanah Jawa,
menjadi orang yang lebih terdidik di sini, tapi aku masih belum mengerti
tujuanku sekolah sebenarnya apa? Yang aku tahu sekolah itu hanya belajar,
setelah itu lulus, lalu kerja, dapat uang dan orang tua senang. Tapi ternyata
tujuanku kurang benar. Saat pengumuman kelulusan SMP ternyata danemku berada di
urutan kedua paralel. Lumayan tinggi lagi, pokoknya bisa dibilang gak kalah deh
dengan anak SMP kota. Apalagi nilai matematika yang terbilang sempurna. Memang
saat itu aku menyukai math. Aku
senang bukan karena danemku yang tinggi, tapi karena baru dapat pengakuan dari
orang tua bahwa aku tidak bodoh. Itu termasuk mimpi yang sangat konyol bagiku
yang bisa menjadi nyata. Aku tak pernah nyangka, usaha belajarku terbayar
lunas. Dari saat itu aku mulai percaya dengan kekuatan mimpi. Ternyata mimpi
itu sangat indah bila didampingi dengan usaha. Memang benar, di dunia ini tidak
ada yang tidak mungkin.
Akhirnya
aku bisa masuk di SMA negeri dan bertemu
dengan anak-anak yang pandai. Saat awal kelas satu aku mulai berani bermimpi
kembali dengan mimpi yang selama ini aku anggap terlalu muluk-muluk dan konyol yaitu menjadi juara satu di kelas. Rasanya
ingin tertawa bila mengingatnya, tapi lambat laun mimpi itu memang nyata. Luar
biasa. Allah mengabulkan doa-doaku.
Dari situlah rasa minderku semakin berkurang. Aku bisa
tampil lebih pede dan teman-teman lebih menyeganiku. Aku berani mimpi seperti
itu karena itu adalah upaya balas dendamku. Rasanya dikecilkan itu sakit men,
awal jadi anak SMA, aku dibully sama gerombolan teman
sekelasku mentang-mentang aku dari pelosok, aku masih ingat sekali siapa saja
yang mengataiku. Mereka pada pamer sekolah SMPnya masing-masing yang gede,
begini begitu. Beneran, aku tidak menghiperbola perkataan ini. Mereka bilang,
“owalah, sekolah mana itu? Aku kok gak pernah denger? Pasti pelosok, rumahmu
aja pelosok. Sekolahmu mana ada begini begitu kayak sekolahku.” Dan lain-lain,
sambil tertawa puas... Aku cuma bisa nyengir malu dengan perasaan pengen nangis
dan dendam. “Lihat saja nanti. Suatu saat kamu akan membutuhkanku”, batinku.
Tidak lama kemudian, ucapanku benar, mereka butuh aku. Butuh nyontek.
Memalukan bukan? Nyontek kok dibudidayakan. Aku sakit hati bukan karena aku
dibilang pelosok, it’s oke, memang
kenyataan aku anak pelosok, jadi tak ada masalah dengan perkataan seperti itu.
Aku sakit hati karena SMPku dikatain,
tempat dimana aku bisa berubah. Aku tidak akan pernah terima jika membawa-bawa
nama itu.
Semester 2 di kelas 1, aku tidak mau lagi menjadi
juara kelas, karena aku sudah tidak butuh pengakuan dari orang tua, teman, dan
para tetangga yang diam-diam memantauku. Tapi kenyataan berkata lain, aku jadi
juara lagi, biasa saja, tidak ada perasaan senang. Sampai lulus dari SMA
tersebut dengan bertahan masuk 3 besar itu menjadi hal yang biasa. Bagiku dulu,
peringkat adalah hasil untuk mendapatkan pengakuan, lambat laun bagiku adalah bonus
belajar yang tidak penting. Saat SMA, aku tidak pernah merasa bersaing di
kelas. Untuk apa bersaing di kandang sendiri? Kompetisi sebenarnya itu ada
di luar kandang.
Maka dari itu,
aku mengikuti kegiatan MOSI (Menuju Olimpiade Sains Nasional) dan terpilih dibidang
kimia. Saat kelas dua aku terpilih menjadi perwakilannya. Wah rasanya tak
pernah nyangka. Suatu kesempatan yang hebat bagiku. Motivasiku adalah kakak
kelas yang sudah sampai tingkat Nasional. Aku sempat diasramakan, bertemu
dengan anak-anak SMA SBI/RSBI lainnya dari berbagai kota lingkup Jawa Timur.
Dikuliahkan selama 3 hari bersama teman-teman yang luar biasa itu kesempatan
yang kapan lagi? Kami akrab di sana,
saling share ilmu. Alhasil, setelah
melalui proses panjang sampai sering belajar malam, sholat tahajud, wah
ternyata kenyataan berkata lain, aku ada diurutan keempat itupun hanya beda
satu poin dengan anak yang diurutan ketiga. Tidak apa-apa mungkin ini bukan
rezekiku, aku yakin Allah punya rencana lain. Aku gagal ke nasional, tapi tidak
akan menyurutkan semangatku. Ku akui kimia memang susah, sejak kelas 2 SMA aku
sudah didulang kimia versi kuliahan
oleh guruku. Aku mencoba untuk mengikuti olimpiade lagi. Aku sempat tiga kali
masuk babak semifinal, wah benar-benar tidak kusangka. Yang pertama aku lolos
di olimpiade kimia UNESA tingkat Jatim-Bali dan berada di urutan dua. Aku gagal
untuk ke final karena kondisiku yang memang kurang fit (sakit dadakan). Ah
tak apa lalu aku ikut lagi dan lolos ke babak semifinal Veterinary Olimpiad UNAIR tingkat Nasional.
Aku gagal lagi untuk lolos ke final karena aku memang tidak menguasai soal-soal
kedokteran. Belum pulang dari Surabaya sudah dapat kabar aku lolos ke semifinal
lagi di olimpiade kimia Universitas Brawijaya. Karena saat seleksi aku langsung
mengikuti 2 olimpiade sekaligus. Alhamdulillah gagal lagi ke final. Tapi tak
apa masuk ke semifinal saja rasanya sudah untung. Sungguh pengalaman luar biasa
untuk anak yang otaknya terbilang pas-pasan sepertiku. Mungkin inilah sebagai
penggantiku yang tidak lolos di OSN. Lolos olimpiade yang diadakan kampus,
sekaligus mbolank. Bukan Irma namanya kalau tidak ada aksi nekat gak jelas.
Hahaha..
KEHIDUPANKU
MULAI BERUBAH
Sepertinya
lomba-lomba yang aku ikuti kurang ya, cuma yang di atas itu doank. Jadi ya,
tidak bisa memaksimalkan potensi. Tak apa. Resiko karena aku mulai nakal.
Jujur, sikapku mulai berubah saat SMA, terpengaruh teman untuk tidak menjadi
anak yang pendiam. Duduk bersebelahan dengan lawan jenis sudah menjadi hal yang
biasa. Sudah bersikap ala preman
sekolah. Guru dan staf-staf banyak yang mengenalku. Bisa dibilang masa putih
abu-abu itu masa yang mengesankan. 5 kali aku tidak mengikuti pelajaran, males
aja. Malah tidur di perpus atau leyeh-leyeh
di mushola, bahkan aku pernah dikeluarkan dari kelas biologi, karena aku telat
masuk, sehingga UTS aku disendirikan untuk mengerjakan tes di ruang guru,
sumpah berisik, tidak nyaman. Saat itu aku mendapatkan hasil tertinggi, alias
tidak remidi sendiri. Oke, sudah aman dapat pengakuan dari guruku itu, sampai
kelas tiga beliau tidak memperlakukanku seenaknya saja. Kenakalan lain adalah
kadang tidak pakai kaos kaki, lompat cendela pernah 2 kali, baju sering murat-marit (tidak dimasukkan kadang),
berangkat sandalan, kadang main kartu (pas
jam kosong), telat hanya 1 kali, dan yang ekstrim adalah berangkat pakai kolor
pendek doank. Ya itu terpaksa karena aku tidak mau dirugikan yang nanti akan
membuat rokku basah. Herannya, kenakalanku tidak pernah kelihatan, tidak pernah
ketangkap, padahal sekolahku terkenal super ketat, men. Satu lagi kebiasaan
yang belum tertangkap oleh teman-temanku yaitu sering minum air keran. Kalau air
galon habis di kelas, sangu pas-pasan ya
mending minum air keran. Hahaha... husstt...
Aku terkenal
anak yang periang, punya selera humor yang tinggi, pernah ada beberapa anak
yang langsung bilang ke aku baik teman sekelas maupun beda kelas (biasa aku
sering nimbrung di kelas-kelas orang jadi banyak yang akrab denganku). Begini,
pertanyaannya sama, “Irma, kamu itu gak pernah punya masalah ya? Kok hidupmu
selalu ceria gitu sih?” suerrr, aku pengen ngakak di tempat, aku cuma
senyum-senyum saja jika ditanya seperti itu. Juga mana mungkin manusia itu
hidup tanpa masalah? Aku hanya manusia yang pandai menutupi baik kesedihan
maupun kerapuhanku dengan wajah-wajah yang selalu tertawa (yah meskipun gak
jelas sih kadang). Sikap cuekku tidak hilang-hilang dari dulu, entah orang mau
berkata apa, asal tidak merugikanku, tak apa, aku akan diam saja. Aku anak yang
aktif, tapi bukan untuk organisasi. Aku tak suka organisasi jenis apapun.
Bagiku, organisasi itu bikin capek, buang-buang waktu, dll. Aku mikirnya
begini, kalau aku mengikuti organisasi dengan separuh hati, yang jelas
ujung-ujungnya aku akan jadi kuli.
Dalam hal
bermain, wah sebagai anak rumahan yang belum mengenal dunia luar, senang sekali
bisa mbolank bersama kawan-kawan
tercinta. 2 kali camp, dan itu tidak
berbekal apa-apa. Luar biasa. Belum lagi yang acara mbolank-mbolank sampai daerah Situbondo. Pengalaman yang
mengharukan. Bertemu dengan alam, untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Yang
mengesankan mbolangku hanya bermodal sedikit, bahkan kadang tidak bermodal.
Daerah yang pernah ku kunjungi adalah Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang,
Malang, Surabaya. Cukup itu dulu.
KEGAMANGAN
HIDUP
Saat kelas tiga
aku merasakan dilema.
Aku bingung harus kerja atau kuliah nanti setelah lulus SMA karena keterbatasan
biaya juga. Lalu aku mendapat informasi tentang beasiswa bidikmisi. Wah rasanya
ingin sekali mendapatkannya. Dari situlah semangat belajarku tumbuh lagi. Aku
mendapat rekomendasi dari sekolah untuk mengikuti jalur SNMPTN undangan. Saat
itulah aku nekat untuk meneruskan kuliah. Tujuanku sekolah kedokteran. Tapi
karena terkendala biaya, ku wurungkan
niatku itu. Terus aku pilih ke teknik ITS dan pilihan kedua UNESA, aku jauh
lebih semangat untuk belajar soal-soal SNMPTN buat jaga-jaga kalau tidak tembus
jalur undangan. Dan pada akhirnya aku diterima di UNESA. Oh men... Kecewa. SMAku katanya ternyata diblacklist sama ITS. Kenapa harus UNESA? Aku kan hanya
coba-coba menaruh dipilihan kedua. Aku memang sudah terlanjur ilfeel sama unesa gara-gara kesan
pertama yang tidak baik saat olkim. Sebenarnya aku juga sudah ditrima di salah
satu Sekolah Tinggi di Jogja, tidak ku ambil karena jurusan teknik informatika.
Mengawali
semester 1 kuliah dengan separuh hati. Meskipun ada di jurusan kimia, tapi
jurusan ini tidak pernah aku minta dan kampus ini tidak pernah aku inginkan.
Kali ini, aku tidak butuh pengakuan dari siapapun. Aku tidak pernah belajar.
Kerjaanku kuliah-tidur dengan memakan gaji buta. Ya, aku tidak mikir saat itu
kalau aku ini disekolahkan negara. Aku tidak punya tujuan jelas bahwa aku
kuliah untuk apa? Jadi apa? Sumpah, aku bosen menjalani kuliah yang
begini-begini doank. Sifatku berubah lagi, ya tepatnya menjadi Irma yang masih
SMP, pendiam, pasif, kembali menulis hal-hal yang tidak jelas.
Bermula menjadi
panitia (LO) LKTI SMA tingkat nasional, aku melihat mereka keren-keren
mempresentasikan karyanya, wah hanya ngbatin,”Kapan ya aku berdiri di mimbar
seperti itu?” mustahil. Aku bukan siapa-siapa di sini. Jiwaku belum menyatu di
kampus ini. Namun, semangatku mulai terpacu lagi saat dapat undangan mengikuti
TD di Hotel Tanjung. Wah ternyata mereka yang menerima beasiswa keren-keren ya?
Aku bertekad untuk tidak kalah seperti mereka. Setelah melalui perenungan
panjang, “iya ya, inilah kandangku. Jurusan kimia Unesa”. Jadi sering bangun
malam, sholat, berusaha ikhlas dan sabar, bersyukur yang seharusnya ku ucapkan
dari dulu. Yah, bersyukur itu tidak hanya ku ucapkan, tapi akan kubuktikan
dengan sikap. Aku akan semangat. Tak ada yang tau saat itu aku sedang patah
hati sepatah-patahnya dengan
seseorang. Untuk pelampiasan kucoba terjun ke
dunia yang pernah menjadi asing, yaitu menulis ilmiah. Tidak punya bekal
apa-apa, yang aku tau belajar yang tepat adalah langsung terjun ke dunia itu.
Banyak membaca adalah kunci seseorang dapat menulis. Seiring berjalannya waktu,
keberuntungan itu ada dipihakku kembali. Entahlah itu prestasi atau bukan? Yang
jelas aku sendiri senang mendapat kesempatan itu, dan mendapat sahabat baru
yang pada luar biasa.
Semester 3,
seperti suatu kehidupan baru. Menjalankan rutinitinas yang berbeda dari
biasanya. Aku suka tantangan, jadi aku berinisiatif untuk tidak diberi uang
meskipun dalam jumlah kecil, aku hanya mencoba apakah aku bisa bertahan hidup
di perantauan dengan hanya uang bulanan dari pemerintah? Aku punya bakat bicara
dengan seseorang yang tak ku gunakan lagi selama masa keterpurukan itu, bakat
itu kali ini tak ku sia-siakan, tak manfaatkan buat berdagang. Yah, aku
berdagang kerudung. Lumayan aku bisa menarik perhatian orang, alhamdulillah
banyak pesanan. Tiap hari, siang kuliah, kalo ada waktu ya kerja, malam
ngerjain tugas (biasa mahasiswa), tidur sebentar, bangun malam (mengerjakan
aktivitas malam), masak nasi, kalau ada waktu tidur lagi nunggu subuh.
Kata-kata mbahku cuma satu, “Jangan lupa ngaji”. Tentu saja, aku tau itu. Ini
dia kehidupan yang aku sukai, belajar hidup
mandiri untuk bekal kehidupan nanti setelah 20 tahun.
Berharap, aku
bisa sesukses orang-orang yang pernah ku temui dan bersalaman, sepert bapak Dahlan
Iskan, Shohibul Asha (Waka DPR-RI), bpk Tumiran (Ilmuwan Indonesia penemu ECVT
dan satelit pertama di Indonesia), salah satu mahasiswa asal Tokyo Japan, bapak
Misbahul Huda (Direktur Jawa Pos dan asosiasi apa gitu?), bpk direktur
perusahaan Malaysia (lupa namanya, karena sudah lama), dll. Jadi merinding, ada
sisa 4 tahun lagi untuk berusaha dan dapat pengakuan sukses dari guruku SMP.
Benar-benar, di luar nalar sudah 6 tahun setelah tantangan itu ku terima, sama
sekali tidak ku temui guruku tersebut, padahal sudah ku usahakan. 4 tahun lagi.
Siapa takut????
-To be Continued-
Lanjutan setelah 20 tahun hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar